Konsep Nibbana dalam Agama Budha
Konsep Nibbana dalam "Agama Budha"
Krisostemus H Marpaung
NIM: 712015080
Nibbana adalah sebutan dalam bahasa Pali, sedangkan
sebutan dalam bahasa sansekerta di sebut Nirvana. Istilah "Nibbana"
berasal dari kata Ni dan Vana. Ni merupakan
partikel negatif, sedang Vana berarti nafsu atau keinginan. Secara
harfiah, nibbana berarti terbebas dari kemelekatan. Nibbana adalah sebuah hasil
sisa, ketika batin dan materi padam, sehingga Nibbana di sebut sebuah realitas
mutlak yang berasal dari sebuah fenomena eksternal. Nibbana dapat di definisi
kan sebagai sebuah tempat yang aman dan terbebas dari sebuah pengaruh-pengaruh
indrawi, bebas dari kesedihan. Nibbana juga dapat diartikan sebagai pemadam api nafsu keinginan
(Lobha), kebencian (Dosa), dan khayalan (Moha). Nibbana adalah sebuah kebebasan dari kemelekatan
hal-hal indrawi, namun nibbana tidak hanya dapat diperoleh kehidupan sesudah
kematian namun kehidupan yang sekarang ini dapat diperoleh. Nibbana dapat
disebut sebagai sebuah kebahagian tertinggi, di karenakan Nibbana hanya di
peroleh oleh orang-orang yang mampu mengendalikan dirinya dan menjauhkan
dirinya dari objek-objek indra. objek-objek indra disebabkan karena adanya
nafsu keserakahan yang melekat pada diri seseorang, sehingga siapa pun yang
ingin memperoleh nibbana ia harus mampu mengendalikan dirinya dan menjadikan
objek-objek indra sebagai musuh dan hal yang tidak layak untuk dilakukan.
Nibbana adalah
sebuah kebahagian, kebahagiaan tanpa melakukan atau mengalami objek-objek indra
namun bukan bararti kebahagiaan yang dimaksudkan adalah kebahagiaan kosong.
kebahagian yang diberikan oleh Nibbana
seolah-olah dapat digambarkan seperti kebahagiaan saat ketika kita tidur, ketika
bermeditasi dll. Nibbana dalam kehidupan saat ini dapat diperoleh dengan
bermeditasi, ketika konsentrasi kita berada dalam level tertinggi. Konsentrasi
saat bermeditsi dapat membawa kita kesebuah tempat dengan keamanan yang
sempurna, dan bebas dari kesedihan. Konsentrasi yang menuntun kita untuk
memperoleh sebuah Nibbana, tidak dapat diperoleh dengan mudah. Bermeditasi
tidak hanya untuk belajar fokus dan melawan objek-objek indrawi, tetapi
menyempurnakan Vinaya yang biasa disebut aturan moral. Vinaya adalah sebuah
aturan moral yang mengajarkan untuk melawan keinginan untuk kembali menjalankan
objek-objek indrawi, berusaha menjalankan dengan sepenuh nya mekanisme sila
sehingga menjadi sebuah kebiasaan dalam kehidupan.
untuk
memperoleh Nibbana, ada beberapa cara yang harus dijalankan dan dihindarkan :
Jalan Mulia Berunsur Delapan, adalah
sebuah langkah yang harus dilaksanakan oleh orang yang ingin memperoleh
Nibbana. Jalan Mulia Berunsur Delapan dibagi menjadi 3, yaitu:
·
Moralitas : membunuh, mencuri, asusila
·
Konsentrasi : usaha benar, perhatian penuh benar,
dan konsentrasi benar.
·
Kebijaksanaan : pandangan yang benar, pikiran yang
benar.
Sepuluh jenis tingkah laku yang tidak lurus, harus lah
dihindarkan oleh setiap orang yang ingin mempeoleh nibbana. Sepuluh jenis
tingkah laku yang tidak lurus itu, yaitu:
·
Perasaan kebencian dan agresi, hal ini di sebabkan karena seseorang
kurang memiliki metta dan karuna, cinta kasih dan belas kasihan.
·
Keserakahan, tindakan ini dapat menyebabkan
masalah, seperti pencurian dan ingin menguasai hak milik orang lain dengan
menghalalkan berbagai cara.
·
Seks, ini merupakan tindakan yang di tumbulkan karena di
dalam diri kita terdapat hawa nafsu. Hawa nafsu inilah yang mendorong kita
melakukan tidak asusila kepada orang lain dan memikirkan kepuasan terhadap diri
sendiri.
·
Ucapan/omongan, ini merupakan yang paling berbahaya.
seperti sebuah pepatah mulut mu lah harimau mu, dikatakan mulut karena dari
dalam mulut lah keluar berbagai ucapan dan omangan. sehingga dalam ucapan terbagi
menjadi empat jenis ucapan yang tidak lurus, yaitu:
1.
Ucapan/omongan
yang tidak sesuai realita (berbohong),
(musavada).
2. Ucapan/omongan yang
menibulkan ketidak-harmonisan (kalimat penghasutan yang menimbulkan perpecahan), (pisunavaca).
3. Ucapan/omongan
yang dapat menyinggung, kasar
menyakitkan orang lain, (pharusavaca).
4. Ucapan / omongan kosong, atau biasa disebut
omongan yang tidak berguna, (samphapalapa).
·
Pikiran, dari sebuah pikiran terdapat tiga
unsur tindakan yang tidak lurus. karena dalam pikiran lah yang menentukan
tindakan seseorang, apabila pikiran nya negatif tindakan nya pastilah negatif
tetapi apabila pikiran positif maka tindakan nya pastilah positif. Sehingga
dapat dikatakan pikiran dan perbuatan disebut selaras, itulah yang menyebabkan
3 pikiran yang tidak lurus ini penting untuk di dihindarkan. Tiga jenis pikiran
yang tidak lurus, yaitu :
1.
Nekkhamma ; melepaskan diri dari kesenangan dunia dan sifat
mementingkan diri sendiri yang berlawanan dengan kemelekatan, sifat mau menang
sendiri.
2.
Abyapada ; cinta kasih, itikad baik, atau kelemah – lembutan yang
berlawanan dengan kebencian, itikad jahat, atau kemarahan.
3.
Avihimsa ; tidak kejam atau kasih sayang, yang berlawanan dengan
kekejaman atau kebengisan.
beberapa tindakaan
yang dilakukan ini harus dihindarkan dari kehidupan seeorang, apabila ia ingin
mencapai nibbana sebagai tempat kebahagiaan tertinggi. Tindakan-tindakan yang
tidak lurus ini harus di hindarkan, semua tindakan tersebut disebut sebagai
kilesa. Untuk mencapai Nibbana, tidak hanya cukup hanya menghindarkan kilesa,
tetapi juga harus dapat menghindarkan kamma. Kamma
berasal dari bahasa (Pâli) dan Karma
dalam bahasa (Sansekerta) artinya "perbuatan". Agama Buddha memandang
hukum kamma sebagai hukum semesta tentang sebab akibat dan sebagai hukum
moral.
Kilesa
dan kamma adalah sebuah hukum dan tindakan yang tidak boleh di jalan kan
seseorang ketika ia berniat untk mencapai kebahagian tertinggi. Kilesa adalah Kekotoran bathin yang kasar dan dapat jelas dilihat
atau didengar, sehingga kilesa di sebut tindakan yang identik
dengan kemelekatan dan keserakahan. Kilesa
akan lenyap ketika kemelekatan dan keserakahan juga leyap, hal ini dapat
menandakan adanya kemurnian pikiran. Kemurnian pikiran inilah yang membawa
kepada kebahagian dan kejelasan atau yang disebut nibbana. kamma adalah sebuah
hukum sebab akibat, terhadap apa yang kita perbuat. Kilesa dan kamma adalah
tindakan yang menuntun dalam lingkaran samsara tanpa terputus. Ketika seseorang
mampu melepaskan dirinya dari kamma dan kilesa sesorang dapat memutuskan
dirinya dari lingkaran samsara. Samsara
atau sangsara dalam agama budha adalah sebuah keadaan tumumbal lahir (kelahiran
kembali) yang berulang-ulang tanpa henti. sehingga dapat di artikan secara
harafiah, bahwa hidup dalam agama budha disebut sebagai sebuah sengsara dan
kematian sebagai keuntungan, apabila tidak dilahirkan kembali. Pemahaman
mengenai konsep kehidupan sebagai sebuah penderitaan ini sama seperti yang ada
dalam konsep Kristen.
Nibbana
adalah sebuah tempat yag diajurkan oleh Budha, para Budha mengatakan tempat ini
sebagai sebuah pencak dari sebuah kebahagian. Untuk sampai Nibbana, Budha
menyediakan sebuah kendaraan yang sangat aman, disebut Kereta yang sungguh tak
bersuara. Kereta ini di persiapkan oleh Budha untuk membawa orang menuju
Nibbana, Budha memberikan tanggung jawab kepada dewa untuk mengemudikan kereta
tersebut menuju nibbana. Ada beberapa syarat untuk dapat naik ke dalam kereta
tersebut, seseorang mampu menjalankan jalan mulia berunsur delapan, mampu
menghindarkan sepeluh tindakan yang tidak lurus dan kamma. Kereta tersebut
memiliki beberapa bagian dan memiliki makna tersendiri, yaitu:
1.
Kereta
tersebut memiliki dua buah roda, dua roda tersebut memiliki akna yaitu: usaha
fisik dan usaha mental. Usaha mental dan usaha fisik merupakan pendukung dan
penggerak dalam kegiatan meditasi, kerena meditasi merupakan cara memperoleh
nibbana dalam kehidupan sekarang.
2.
Kereta
tersebut juga memiliki sebuah sandaran, sandaran tersebut memiliki sebuah makna
yaitu hati nurani. Hati nurani yang digambar kan sebagai sebuah sandaran yang
memberikan perasaan nyaman kepada seseorang, perasaan nyaman inilah yang
membuat orang hidup dalam kemurnian dan tidak tergoda kepada kilesa dan hal-hal
indrawi.
3.
Kereta
tersebut memiiki sebuah perisai, perisai ini sebagai sebuah perhatian penuh.
Perhatian penuh ini digabarkan sebagai sebuah pelindung terhadap pemeditasi
yang menuju nibbana. Perisai ini bermanfaat melindungi dari kilesa dan kamma.
4.
Kereta
tersebut memiliki sebuah kursi, kursi tersebut bermakna sebagai pandangan
benar. Pandangan benar disebut kammassakata samma-ditthi. Pandangan benar ini
bermanfaat memberikan pengaruh positif karena pandangan mempengaruhi, pikiran
dan tindakan seseorang.
Daftar Pustaka
·
Pandita
U Sayadaw, 2014, Ajaran Buddha Tentang Pembebasan, Jawa Barat, Yayasan
Satipatthana Indonesia (yasti).
·
Mahathera
Narada, 2012, Buddhism in Nutshell, Semarang, Yayasan Dhamma Phala, diakses 21
Februari, Pukul 21.00. http://samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/nibbana/
·
Sayadaw
Tawya, 2013, The Only Way For The Ralization Of Nibbaba, Singapore, Mediation
Canter, diakses 20 Februari, pukul 19.00. Googlee-books.
·
Syafiq Ahmad,"Pengertian Nibbana", diakses 21 Februari, Pukul 21.00. http://buddhisme-fahmidz.blogspot.co.id/2013/05/pengertian-nibbana.html.
·
Astuti Fitri,"Pengertiab Nibana dan
Jalan Menuju NIbbana", diakses 21 Februari, Pukul 22.00. http://ridwanzein.blogspot.co.id/2013/06/pengertian-nibbana-dan-jalan-menuju.html
·
Sudarsono
Budi, "Nibbana", diakses 21 Februari, pukul 23.00, http://budi-sudarsono.silaturahim.web.id/ind/1824-1710/nibbana_55_2_0_mm-usb-bandung_budi-sudarsono-silaturahim.html
·
Hadi
Tan, "Jalan Mulia berunsur delapan", diakses 21 Februari, pukul
23.00, http://tanhadi.blogspot.co.id/2012/02/jalan-mulia-berunsur-delapan.html
·
Pangadian Benny, "Pemahaman Hukum
Kamma", diakses 22 February, Pukul 06.00, http://mitta.tripod.com/kamma.htm
Komentar
Posting Komentar